Senin, 29 Oktober 2012

saat bapak berpulang...

Tak sempat kiranya ku bersua,
bahkan suaranya yang terakhir pun tak sempat hinggap di telingaku,
semua pergi tiba-tiba, menghilang- tak berjejak!
Dari jarak sepuluh langkah menuju rumah, pertahanan batinku runtuh
Lemas tak bertenaga!
Meraung sekeras yang kubisa, meratap sedalam-dalamnya, meronta-ronta tak berjiwa.
Kukira ini hanya sebuah drama, kukira ini hanya ilusi.
Sejurus mata ku memadang, Kudapati tubuh telah terbujur kaku tak bernyawa, dalam balutan kafan putih.
Ini nyata!
tangisku pecah makin liar, berharap malaikat maut salah menyabut nyawa.
Tapi jasad bergeming.
Diam..diam..diam….
Air mata yang masih deras, jelas larangan untuk mendekat.
Membuatku terlelap lelah dalam ketidakpercayaan.
subuh tiba, dengan alunan adzan yang menyejukkan jiwa yang berprahara.
Ku bersujud ikhlas mencari kedamaian dan kekuatan.
Kini, kudapati jasad yang telah makin pucat itu sedemikian dekatnya, hanya beberapa jengkal saja
Tiba-tiba ku merasa iri pada mereka yang masih mendapati jasad yang masih hangat.
Seakan memberikan keleluasaan untuk menyimpan memori yang terakhir untuk dikenang
Kudapati jasad ini tlah menjadi sedingin es, tak ada lagi aroma tubuh yang bisa kurekam-hanya kapur barus yang begitu dominan hinggap di hidungku.
kukecup pipinya, dan berbisik lembut pada telinganya
“maapin aku ya pak…..”
###
bapak pergi membawa luka mendalam dalam hatiku,
sebagai anak pertama, justru aku anak yang paling sedikit menghabiskan waktu bersama orangtua.
Dua minggu menjelang kepergiaanya, aku dihinggapi kegelisahan yang mendalam-meski tak bisa dijelaskan dalam kata.
Yang jelas, dorongan untuk pulang ke Jakarta begitu besarnya. Namun, adanya tanggung jawab yang sedang kuemban membuatku bersikap professional untuk ke Jakarta.
Hingga tiba kabar yang begitu menyakitkan,
lima belas menit sebelum dzuhur tiba, bapak berpulang.
Rinduku berkali-kali datang, sungguh tersiksa merindukan seseorang yang telah meninggal.
Rasa bersalahku sebagai seorang anak yang belum bisa berbakti kepada bapak, seringkali timbul begitu menusuk hati.
Namun bapak beberapa kali datang dalam mimpiku, dengan wajah segar dan penuh dengan canda “bapak gak pergi nduk, bapak ada disini koq”
Ntah itu hanya bunga tidur, atau apalah. Yang pasti pertemuanku dengan bapak dalam mimpi membawa nafas segar bagi paru-paruku.
jika bapak masih melihatku dari tempat peristirahatnnya,
izinkan aku meminta maap atas segala salah yang kuperbuat, dan betapa rasa cinta ini tak pernah padam meski tanah telah menutupi jasadmu.
Teruntuk bapak di surga
11 februari 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar